Dalam perlombaan renang tingkat tinggi, kemenangan sering kali ditentukan oleh margin waktu yang sangat tipis, terkadang hanya seperseribu detik. Salah satu fase yang paling menentukan namun sering kali tidak terlihat dengan jelas oleh penonton awam adalah apa yang terjadi di bawah permukaan air setelah atlet melakukan terjunan. Fase ini dikenal dengan istilah underwater kick atau tendangan lumba-lumba di bawah air. Para ahli sering menyebut fase ini sebagai “gaya kelima” dalam renang karena efektivitasnya yang luar biasa dalam mempertahankan kecepatan puncak yang dihasilkan dari dorongan blok start atau dinding kolam saat pembalikan.
Apa sebenarnya yang menjadi rahasia di balik efektivitas gerakan ini? Secara hidrodinamika, tubuh manusia bergerak lebih cepat di bawah air daripada di permukaan air. Hal ini terjadi karena di bawah permukaan, perenang terhindar dari hambatan gelombang (wave drag) yang tercipta saat tubuh membelah permukaan air. Dengan melakukan tendangan lumba-lumba yang kuat dan efisien pada kedalaman sekitar 0,5 hingga 1 meter, seorang perenang dapat memanfaatkan momentum awal mereka lebih lama. Kecepatan yang didapat dari start yang eksplosif akan segera hilang jika perenang langsung muncul ke permukaan, itulah sebabnya memaksimalkan jarak di bawah air hingga batas legal 15 meter sangatlah krusial.
Teknik tendangan ini menuntut koordinasi yang luar biasa antara otot inti (core), pinggul, dan kaki. Gerakan tidak boleh hanya berasal dari lutut, melainkan harus berupa gelombang kontinu yang dimulai dari dada dan mengalir hingga ke ujung jari kaki. Bayangkan tubuh Anda seperti pecut yang melecut; semakin lentur dan kuat cambukannya, semakin besar daya dorong yang dihasilkan. Perenang pro menghabiskan waktu berjam-jam untuk melatih fleksibilitas pergelangan kaki dan kekuatan otot perut bagian bawah agar dapat menghasilkan tendangan yang cepat namun tetap efisien dalam penggunaan oksigen. Di sinilah letak perbedaan antara perenang elite dan perenang rata-rata.
Penerapan tendangan ini juga berfungsi sebagai underwater kick taktis untuk mengintimidasi lawan. Ketika seorang perenang muncul ke permukaan jauh di depan lawan karena keunggulan fase bawah airnya, hal itu memberikan tekanan psikologis yang besar bagi pesaing di lintasan sebelah. Namun, teknik ini memerlukan kapasitas paru-paru dan toleransi terhadap laktat yang tinggi. Berada di bawah air tanpa bernapas sambil melakukan gerakan eksplosif adalah tantangan fisiologis yang berat. Oleh karena itu, latihan hipoksik atau latihan pernapasan terbatas sering menjadi bagian integral dalam menguasai fase ini agar perenang tidak merasa kehabisan napas saat baru saja memulai fase renang di atas permukaan.