Dalam dunia olahraga kompetitif, fisik yang kuat hanyalah separuh dari syarat kemenangan; separuh lainnya terletak pada ketangguhan mental. Bagi para atlet di Serang, menjalankan pertandingan atau latihan berat dalam kondisi perut kosong selama Ramadan memberikan ujian psikologis yang sangat nyata. Kemampuan dalam melakukan Kontrol Emosi menjadi faktor pembeda antara kegagalan dan keberhasilan. Rasa lapar yang dibarengi dengan kelelahan fisik sering kali memicu peningkatan hormon stres seperti kortisol, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat merusak fokus, strategi, dan sportivitas di lapangan hijau maupun arena tarung.
Pendekatan Psikologi Atlet yang diterapkan di pusat-pusat pelatihan di Serang menitikberatkan pada teknik manajemen stres melalui pernapasan dan visualisasi. Para praktisi psikologi olahraga setempat memberikan sesi khusus untuk membantu atlet tetap tenang meskipun detak jantung meningkat dan energi mulai menipis. Ketegangan mental sering kali muncul saat seorang atlet merasa tidak mampu mengejar ketertinggalan poin akibat kondisi fisik yang lemas. Di sinilah letak pentingnya afirmasi positif; mengubah persepsi lapar dari sebuah kelemahan menjadi sebuah bentuk ketabahan dan kekuatan mental yang tidak dimiliki oleh lawan yang tidak berpuasa.
Kondisi para pejuang olahraga di Serang menunjukkan bahwa pengendalian diri adalah otot mental yang harus dilatih sesering mungkin. Saat bertanding dalam kondisi lapar, ambang batas kesabaran seseorang biasanya akan menurun, yang bisa berujung pada tindakan impulsif atau pelanggaran yang tidak perlu. Pelatih menekankan bahwa emosi yang meledak-ledak hanya akan membuang energi yang sudah sangat terbatas secara percuma. Dengan tetap tenang, aliran oksigen ke otak menjadi lebih stabil, memungkinkan pengambilan keputusan taktis tetap tajam meskipun dalam kondisi tubuh yang sedang mengalami defisit kalori yang signifikan.
Fenomena Saat Tanding memberikan tekanan yang berbeda dibandingkan latihan biasa. Ada beban ekspektasi dari penonton dan tanggung jawab membawa nama baik daerah. Bagi atlet di Serang, rasa lapar justru dijadikan sebagai pengingat akan disiplin dan komitmen. Mereka belajar untuk memisahkan antara sensasi fisik (lapar/haus) dengan tugas profesional (bermain bagus). Kemampuan disosiasi positif ini sangat berguna dalam membentuk karakter juara yang tahan banting. Atlet yang mampu menguasai dirinya sendiri dalam kondisi paling sulit adalah mereka yang paling berpotensi memenangkan persaingan di level yang lebih tinggi kelak.