Dunia olahraga akuatik modern tidak lagi hanya mengandalkan insting pelatih atau stopwatch manual untuk mengukur performa. Di kota Serang, sebuah revolusi sedang terjadi dalam pembinaan prestasi olahraga melalui penerapan Data Analytics. Dengan memanfaatkan teknologi mutakhir, setiap gerakan yang dilakukan oleh perenang di dalam air kini dapat dikonversi menjadi angka-angka yang sangat detail. Pendekatan ini memungkinkan tim pelatih untuk melihat hal-hal yang tidak tertangkap oleh mata telanjang, memberikan gambaran yang jauh lebih objektif mengenai bagaimana seorang atlet dapat mencapai puncak performanya secara efisien.

Penggunaan perangkat keras berupa lewat sensor yang dipasang pada tubuh atlet menjadi tulang punggung dari sistem ini. Sensor-sensor kecil dan tahan air ini biasanya ditempatkan di pergelangan tangan, pinggang, dan kaki untuk merekam koordinat gerak secara tiga dimensi. Di Serang, pusat pelatihan renang mulai mengadopsi sensor inersia yang mampu mengukur akselerasi, sudut rotasi tubuh, hingga kekuatan dorongan tangan saat membelah air. Data ini kemudian dikirimkan secara nirkabel ke perangkat komputer untuk diolah menggunakan algoritma khusus yang menghasilkan profil mekanika gerak atlet secara menyeluruh.

Melalui Data Analytics, tim kepelatihan dapat secara spesifik mengidentifikasi hambatan yang menyebabkan penurunan laju perenang. Misalnya, sensor dapat menunjukkan apakah ada penurunan tenaga pada kayuhan tangan di 15 meter terakhir atau apakah posisi kaki terlalu rendah sehingga menciptakan hambatan air (drag) yang besar. Bagi atlet Serang, data ini adalah cermin digital yang menunjukkan kelemahan teknis mereka tanpa ada bias personal. Dengan mengetahui titik lemah secara presisi, program latihan dapat diubah dari yang bersifat umum menjadi latihan korektif yang sangat spesifik untuk memperbaiki satu variabel tertentu.

Aspek lain yang dibedah melalui teknologi ini adalah efisiensi pembalikan tubuh (turn) dan peluncuran di bawah air. Seringkali, kemenangan dalam lomba renang ditentukan oleh sepersepuluh detik yang hilang saat melakukan pembalikan di dinding kolam. Dengan bantuan lewat sensor tekanan yang dipasang di dinding kolam, pelatih di Serang dapat mengukur seberapa besar gaya dorong yang dihasilkan oleh kaki atlet dan berapa lama waktu kontak yang dibutuhkan. Data analitik akan memberikan saran mengenai sudut tekukan lutut yang paling optimal untuk menghasilkan daya ledak maksimal, sehingga atlet dapat meluncur lebih jauh dan lebih cepat setelah melakukan pembalikan.